Ada goresan tercipta atas kata yang terucap olehnya
Lucunya, dada tidak terisak olehnya
Mungkin karena, sudah ia pendam dalam-dalam
Sehingga ia sudah lupa rasa sakit yang menimpanya
-Q(15/07/2017) 23.46
Saturday, July 15, 2017
Monday, July 3, 2017
#02 Spontan
Kalau harus dengan kehilangan semua berubah, lantas dibutakan oleh apa diri selama ini?
Pada malam ini, aku terpaku di depan layar ponselku.
Termenung dengan pesan yang disampaikan oleh kawanku.
Berujung pada rinduku dan masa laluku.
Sang Pencipta begitu lihainya untuk menyadarkan setiap hamba-Nya.
Mungkin untuk kisahku ini, harus dengan kehilanganlah diri ini bisa berubah.
Sama halnya dengan kehilangan yang sebelumnya, memilukan namun menyesatkan diri.
Kala itu diri ini belum mampu untuk memahami.
Malu dan sesal menjadi kawan masa kini.
Lantas apa hakikat berubah yang hakiki?
Tak pantaskah terus menyesali?
Tak pantaskah terus mendzalimi?
Yang menjadi hambatan kini adalah penyesalan.
Alam pun tahu bahwa sebenarnya manusia keji dan sialan.
Namun, alam juga tahu bahwa manusia yang baik adalah manusia yang terus berusaha.
Berusaha untuk menjadi lebih baik dan memahami hakikat kebaikan itu sendiri.
Sedikit celotehan hati yang terluap pada Selasa pagi yang sendu ini.
-Q(07/04/2017)
Pada malam ini, aku terpaku di depan layar ponselku.
Termenung dengan pesan yang disampaikan oleh kawanku.
Berujung pada rinduku dan masa laluku.
Sang Pencipta begitu lihainya untuk menyadarkan setiap hamba-Nya.
Mungkin untuk kisahku ini, harus dengan kehilanganlah diri ini bisa berubah.
Sama halnya dengan kehilangan yang sebelumnya, memilukan namun menyesatkan diri.
Kala itu diri ini belum mampu untuk memahami.
Malu dan sesal menjadi kawan masa kini.
Lantas apa hakikat berubah yang hakiki?
Tak pantaskah terus menyesali?
Tak pantaskah terus mendzalimi?
Yang menjadi hambatan kini adalah penyesalan.
Alam pun tahu bahwa sebenarnya manusia keji dan sialan.
Namun, alam juga tahu bahwa manusia yang baik adalah manusia yang terus berusaha.
Berusaha untuk menjadi lebih baik dan memahami hakikat kebaikan itu sendiri.
Sedikit celotehan hati yang terluap pada Selasa pagi yang sendu ini.
-Q(07/04/2017)
Monday, June 5, 2017
#01 Spontan
Aku memilih diam meskipun cinta adalah kata kerja
Memerlukan tindakan
Biarlah waktu memanjanya
Biarlah raga lain mendampingnya
Jika takdir-Nya, usah khawatir karna akan berjumpa jua
Memerlukan tindakan
Biarlah waktu memanjanya
Biarlah raga lain mendampingnya
Jika takdir-Nya, usah khawatir karna akan berjumpa jua
Sunday, March 12, 2017
Jerat Lekat
Waktu terus berjalan
Jam terus berdetak
Bumi terus berputar
Bahkan angin tetap berhempus
Aku...
Bagaimana denganku?
Sejenak berdiam pada waktu yang terus berjalan
Hingga tanpa kusadari, aku tak pernah bergerak
Stagnan dalam biasnya keceriaan
Kerap kali ku bertanya
Kemanakah kaki ini harus melangkah
Bagaimana aku bisa melangkah
Sedangkan jeratan ini begitu lekat
Hingga ku lihat seekor burung
Sekuat tenaga berupaya lepas dari jeratan perangkap
Tanpa keluh kesah, berupaya dengan kuatnya
Tertohok aku karenanya
Bagaimana mungkin aku terlalu pasrah
Tanpa upaya yang ku lakukan
Wahai burung... aku ingin sepertimu
Tidak takut dengan konsekuensi lepas dari perangkap, hidup atau mati
Tetapi kau... hanya fokus pada upayamu untuk bebas
Wahai burung, aku juga ingin bebas
Bergerak selaras dengan waktu
Berdetak selaras dengan jam
Berputar selaras dengan Bumi
Berhembus selaras dengan angin
Maka, pada detik ini aku akan berupaya
Berupaya untuk bebas
Ya, BEBAS.
Selamat tinggal jerat lekat
Meski mati yang ku dapati, takkan menyesal hati
Jam terus berdetak
Bumi terus berputar
Bahkan angin tetap berhempus
Aku...
Bagaimana denganku?
Sejenak berdiam pada waktu yang terus berjalan
Hingga tanpa kusadari, aku tak pernah bergerak
Stagnan dalam biasnya keceriaan
Kerap kali ku bertanya
Kemanakah kaki ini harus melangkah
Bagaimana aku bisa melangkah
Sedangkan jeratan ini begitu lekat
Hingga ku lihat seekor burung
Sekuat tenaga berupaya lepas dari jeratan perangkap
Tanpa keluh kesah, berupaya dengan kuatnya
Tertohok aku karenanya
Bagaimana mungkin aku terlalu pasrah
Tanpa upaya yang ku lakukan
Wahai burung... aku ingin sepertimu
Tidak takut dengan konsekuensi lepas dari perangkap, hidup atau mati
Tetapi kau... hanya fokus pada upayamu untuk bebas
Wahai burung, aku juga ingin bebas
Bergerak selaras dengan waktu
Berdetak selaras dengan jam
Berputar selaras dengan Bumi
Berhembus selaras dengan angin
Maka, pada detik ini aku akan berupaya
Berupaya untuk bebas
Ya, BEBAS.
Selamat tinggal jerat lekat
Meski mati yang ku dapati, takkan menyesal hati
Wednesday, January 25, 2017
K o s o n g
Hamparan kerikil memenuhi lahan
Sepanjang mata memandang hanya udara berlalu lalang
Kemana ?
Kemana perginya kayu-kayu penopang
Penopang momen keindahan
Penopang segala suka duka
K o s o n g,
Hanya itu yang tampak di pelupuk mata
Kilasan masa itu hanya ada di angan
K o s o n g,
Bagimana mungkin ?
Pertanyaan yang sangat mungkar kepada-Nya,
Ketika Dia telah mengatakan 'Ya' namun masih sulit untuk diterima
Apa, bisa apa makhluk lemah ini?
Meratapi, namun urun menyudahi
K o s o n g,
Benarkah?
Pengandaian selalu muncul dalam benak
Pengandaian menyalahkanku atas takdir ini
K o s ... Hentikan !
Bukan pengandaian yang harus diandalkan
Bukan meratapi yang ingin ku sampaikan
Tetapi, kisah manis di masa itu
Karena, ikhlas menanti hingga ujung waktu
Tidakkah tega diri ini untuk membebaninya?
Kosong hanya sebuah frasa,
Tidak. Tidak sekosong itu
Coba lihat dengan mata hati, bahwa disana terdapat sepenggal kisah yang abadi
Ditemani sepasang malaikatnya, anak itu tumbuh
Malaikat memberinya segala
Menuntunnya bersama
Menjelajahi suasana
Ketiga makhluk itu tampak serasi
Tak ada jalan yang tak berliku
Segala suka dan duka dibagi bersama
Memandangi hijau yang memukau menjadi sebuah kebiasaan
Terlukis dengan indah,
Tempat-tempat yang telah dilalui bersama
Sebuah kenyamanan timbul karena terbiasa
Dan ketika tempat ternyamanmu, dipanggil-Nya...
Darr!
Bukan main, hujan tak akan mampu mengukur kesedihan itu
Mengukur seberapa banyak tetesan jatuh dari pelupuk mata
Terlena, lebih tepat untuk diungkapkan
Bahwasanya semua akan kembali pada-Nya
Bahwa semua makhluk tidak benar-benar saling memiliki
Bahwa semua hanya titipan
Bahwa semua hanyalah ilusi
Bahwa semua, hanya bersinggah di dunia yang fana ini
Bahwa ikhlas yang harus diperjuangkan
Bahwa takdir yang merupakan kenyataan
Sepenggal kalimat terangkai
Tidak apik memang
Namun, setidaknya mampu mewakilkan
Mewakilkan dari sekian banyak momen terekam
Mewakilkan seberapa besar dia mencintainya malaikatnya
Mewakilkan seberapa besar dia kehilangan malaikatnya
Dan,
Menyadarkan bahwa semua tetap kembali pada-Nya
Sepanjang mata memandang hanya udara berlalu lalang
Kemana ?
Kemana perginya kayu-kayu penopang
Penopang momen keindahan
Penopang segala suka duka
K o s o n g,
Hanya itu yang tampak di pelupuk mata
Kilasan masa itu hanya ada di angan
K o s o n g,
Bagimana mungkin ?
Pertanyaan yang sangat mungkar kepada-Nya,
Ketika Dia telah mengatakan 'Ya' namun masih sulit untuk diterima
Apa, bisa apa makhluk lemah ini?
Meratapi, namun urun menyudahi
K o s o n g,
Benarkah?
Pengandaian selalu muncul dalam benak
Pengandaian menyalahkanku atas takdir ini
K o s ... Hentikan !
Bukan pengandaian yang harus diandalkan
Bukan meratapi yang ingin ku sampaikan
Tetapi, kisah manis di masa itu
Karena, ikhlas menanti hingga ujung waktu
Tidakkah tega diri ini untuk membebaninya?
Kosong hanya sebuah frasa,
Tidak. Tidak sekosong itu
Coba lihat dengan mata hati, bahwa disana terdapat sepenggal kisah yang abadi
Ditemani sepasang malaikatnya, anak itu tumbuh
Malaikat memberinya segala
Menuntunnya bersama
Menjelajahi suasana
Ketiga makhluk itu tampak serasi
Tak ada jalan yang tak berliku
Segala suka dan duka dibagi bersama
Memandangi hijau yang memukau menjadi sebuah kebiasaan
Terlukis dengan indah,
Tempat-tempat yang telah dilalui bersama
Sebuah kenyamanan timbul karena terbiasa
Dan ketika tempat ternyamanmu, dipanggil-Nya...
Darr!
Bukan main, hujan tak akan mampu mengukur kesedihan itu
Mengukur seberapa banyak tetesan jatuh dari pelupuk mata
Terlena, lebih tepat untuk diungkapkan
Bahwasanya semua akan kembali pada-Nya
Bahwa semua makhluk tidak benar-benar saling memiliki
Bahwa semua hanya titipan
Bahwa semua hanyalah ilusi
Bahwa semua, hanya bersinggah di dunia yang fana ini
Bahwa ikhlas yang harus diperjuangkan
Bahwa takdir yang merupakan kenyataan
Sepenggal kalimat terangkai
Tidak apik memang
Namun, setidaknya mampu mewakilkan
Mewakilkan dari sekian banyak momen terekam
Mewakilkan seberapa besar dia mencintainya malaikatnya
Mewakilkan seberapa besar dia kehilangan malaikatnya
Dan,
Menyadarkan bahwa semua tetap kembali pada-Nya
Lepas Landas
Terbaringku beralas rindu
Terpejamku dalam kilatan waktu
Terisakku dalam sendu
Terbuaiku di masa lalu
Tak sanggupku membendungnya
Bertikai dengan diri
Harus kah mengutarakannya ?
Harus kah aku membendungnya ?
Kerinduan semakin mendalam
Keheningan semakin terngiang
Kilatan itu semakin dahsyat
Tekanan datang silih berganti
Sudah lah
Aku ingin menyudahinya
Belenggu masa lalu takkan bisa terlupa
Rindu yang terkadang datang tanpa diundang
Cukup
Hanya cukup untuk dikenang
Enyahlah semua angan-angan akan kebersamaan
Biar kan ku disini
Diam menikmati pahitnya manis
Biar waktu menyelesaikan tugasnya
Dan akan datang saatnya untuk lepas landas
Terpejamku dalam kilatan waktu
Terisakku dalam sendu
Terbuaiku di masa lalu
Tak sanggupku membendungnya
Bertikai dengan diri
Harus kah mengutarakannya ?
Harus kah aku membendungnya ?
Kerinduan semakin mendalam
Keheningan semakin terngiang
Kilatan itu semakin dahsyat
Tekanan datang silih berganti
Sudah lah
Aku ingin menyudahinya
Belenggu masa lalu takkan bisa terlupa
Rindu yang terkadang datang tanpa diundang
Cukup
Hanya cukup untuk dikenang
Enyahlah semua angan-angan akan kebersamaan
Biar kan ku disini
Diam menikmati pahitnya manis
Biar waktu menyelesaikan tugasnya
Dan akan datang saatnya untuk lepas landas
Kasih Tak Hingga
Dia
Sosok yang ku kagumi
Panutan yang baik dalam hidupku
Tangguh dalam guncangan yang menimpa
Satu, dua patah kata takkan cukup
Pengorbanannya begitu berat
Melawan ego hanya untukku
Menyayat hati karena lisanku
Kau memang bukan malaikat
Jauh dari kata sempurna
Namun sikapmu berkata lain
Hatimu tulus nan suci
Selalu berusaha memberikan yang terbaik
Mengubur semua ketidaksempurnaanmu
Aku hanya lah sebutir biji jagung
Tak dapat disandingkan dengan kehebatanmu
Lisan kerap berucap palsu
Emosi kerap menyelubungiku
Maaf
Karena aku masih bergantung padamu
Maaf
Jika aku belum sanggup membahagiakanmu
Maaf
Atas ucap palsu yang kerap ku lontarkan
Maaf
Karena aku menabung banyak rahasia darimu
Maaf
Karena aku belum menjadi panutan yang baik bagi adik-adik
Maaf
Karena sering mengecewakanmu
Satu yang ku pinta
Entah pantas atau tidak
Atas segala perbuatanku
Doakan aku, ridhoi aku untuk membahagiakanmu
Penyesalan datang terlambat
Sedangkan waktu terus bergulir
Biar kan aku memulainya dari nol
Dengan caraku, aku ingin membahagiankanmu
Kasih ibu memang tiada tara
Tak terhingga sepanjang masa
Meski badai menerjang
Meski guncangan menghadang
Demi aku, anakmu, kau berusaha membahagiakanku
Terima kasih, ibu.
Sosok yang ku kagumi
Panutan yang baik dalam hidupku
Tangguh dalam guncangan yang menimpa
Satu, dua patah kata takkan cukup
Pengorbanannya begitu berat
Melawan ego hanya untukku
Menyayat hati karena lisanku
Kau memang bukan malaikat
Jauh dari kata sempurna
Namun sikapmu berkata lain
Hatimu tulus nan suci
Selalu berusaha memberikan yang terbaik
Mengubur semua ketidaksempurnaanmu
Aku hanya lah sebutir biji jagung
Tak dapat disandingkan dengan kehebatanmu
Lisan kerap berucap palsu
Emosi kerap menyelubungiku
Maaf
Karena aku masih bergantung padamu
Maaf
Jika aku belum sanggup membahagiakanmu
Maaf
Atas ucap palsu yang kerap ku lontarkan
Maaf
Karena aku menabung banyak rahasia darimu
Maaf
Karena aku belum menjadi panutan yang baik bagi adik-adik
Maaf
Karena sering mengecewakanmu
Satu yang ku pinta
Entah pantas atau tidak
Atas segala perbuatanku
Doakan aku, ridhoi aku untuk membahagiakanmu
Penyesalan datang terlambat
Sedangkan waktu terus bergulir
Biar kan aku memulainya dari nol
Dengan caraku, aku ingin membahagiankanmu
Kasih ibu memang tiada tara
Tak terhingga sepanjang masa
Meski badai menerjang
Meski guncangan menghadang
Demi aku, anakmu, kau berusaha membahagiakanku
Terima kasih, ibu.
Berubah
Termenung kaku di hari biru
Apakah aku pantas ?
Atas segala dosa tertabung
Engkau tetap menyanyangiku
| source: http://s2.favim.com/orig/28/cartoon-confidence-confident -crying-insecure-Favim.com-238761.gif |
Hari-hari kelam telah berlalu
Goresan dosa tetap terukir
Apakah aku mampu?
Jawab-Nya hanya bisu
Keyakinan membimbingku
Cahya-Nya menuntunku
Sejauh apa pun itu
Setajam liku tebing
Tidak ada kata terlambat untuk berubah
Tidak ada kata terlambat untuk kembali
Kembali lah Bumiku
![]() |
| source: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/12/31 /c2/1231c205ed78c73353bc774d18d798e2.jpg |
Bumi dibasahi air langit
Ricuh daun akannya
Teduh burung di ranting
Tanah lembab menyerapnya
Kala, ya kala itu Bumiku
Ku rindukan Bumiku yang dulu
Kemana perginya hijau nan teduh
Kicauan burung pun bisu
Beton itu menutup pori
Air tak lagi mampu menyerap kedalamnya
Gugur lah ketahanannya
Luapan air tak dapat dicegah
Hilangnya kesadaran
Lalainya perbuatan
Bumiku diambang kehancuran
Bangun lah kepedulian
Hijau bumi terbangunkan
Runtuhnya Hujan
Akhirnya, runtuhlah ketahananmu
Rintik hujan mulai terngiang
Membasahi lerung hatiku
Ku tahu kau takkan mungkin mengelaknya
Senyum hatiku penuh arti
Bersemi lah harapan-harapan baru
Begitu berwarna
Hingga saat ingin kuraih...
Tapi...
Bagaimana mungkin
Sejuknya udara
Aroma khasmu
Gemercik air
Terjadi begitu cepat
Hujan mulai berhenti
Bagaimana mungkin?
Secepat ini kah?
Hanya singgah kah?
Tidak kah kau ingin menetap?
- Qeo's [20150710]
Rintik hujan mulai terngiang
Membasahi lerung hatiku
Ku tahu kau takkan mungkin mengelaknya
Senyum hatiku penuh arti
Bersemi lah harapan-harapan baru
Begitu berwarna
Hingga saat ingin kuraih...
Tapi...
Bagaimana mungkin
Sejuknya udara
Aroma khasmu
Gemercik air
Terjadi begitu cepat
Hujan mulai berhenti
Bagaimana mungkin?
Secepat ini kah?
Hanya singgah kah?
Tidak kah kau ingin menetap?
- Qeo's [20150710]
Mendungmu
Pagi buta
Menggelapkan relung hati
Kemana perginya terangmu?
Awan mencegahmu
Tak ada pancaran silaumu
Lalu, disini aku
Termengu dalam mendungmu
Hanya mampu menatapmu
Hanya mampu memandangi kebersamaanmu dengan awan biru
Qeo's [20150710]
Menggelapkan relung hati
Kemana perginya terangmu?
Awan mencegahmu
Tak ada pancaran silaumu
Lalu, disini aku
Termengu dalam mendungmu
Hanya mampu menatapmu
Hanya mampu memandangi kebersamaanmu dengan awan biru
Qeo's [20150710]
Cheer Up
Hi, how do you do? Hope you're in good condition right now. Wow it's been 3years since i posted in this blog.
Why do i changed the link? I want to be like misteriously so that no one will never know it is evie oktafia's blog before visit it haha *evil laugh*
By the way, i will (mostly) post about poetry. I don't know since when i love to write poems. Hope you'll enjoy.
But... I dont really want my blog will be visited by many people. If you like, enjoy and appreciate my poems don't forget to follow.
Why do i changed the link? I want to be like misteriously so that no one will never know it is evie oktafia's blog before visit it haha *evil laugh*
![]() |
| Cheer, don't give up! |
But... I dont really want my blog will be visited by many people. If you like, enjoy and appreciate my poems don't forget to follow.
Subscribe to:
Posts (Atom)

